Minggu, 13 Februari 2011

Kliring

Sesuai PBI No.7/18/PBI/2005 tanggal 22 Juli 2000, Kliring adalah pertukaran warkat atau data keuangan elektronik antar bank baik atas nama Bank maupun nasabah yang hasil perhitungannya diselesaikan pada waktu tertentu.

Peserta kliring ada 2 macam yaitu peserta langsung dan peserta tidak langsung.

Peserta langsung yaitu bank-bank yang sudah tercatat sebagai peserta kliring dan dapat memperhitungkan warkat atau notanya secara langsung dengan BI atau melalui PT Trans Warkat sebagai perangkat dengan BI. Contoh: Bank Retail, Bank Devisa.

Peserta tidak langsung yaitu bank-bank yang belum terdaftar sebagai peserta kliring akan tetapi mengikuti kegiatan kliring melalui bank yang telah terdaftar sebagai peserta kliring. Contoh BPR.

Warkat atau nota kliring adalah alat atau sarana yang digunakan dalam lalu lintas pembayaran giral, yaitu surat berharga atau surat dagang, seperti:
- cek,
- bilyet giro,
- wesel bank untuk transfer atau wesel unjuk,
- bukti-bukti penerimaan transfer dari bank-bank,
- nota kredit, dan
- surat-surat lainnya yang disetujui oleh penyelenggara (BI)

Syarat-syarat warkat yang dapat dikliringkan:
- Bervaluta rupiah
- Bernilai nominal penuh
- Telah jatuh tempo pada saat dikliringkan
- Telah dibubuhi cap kliring

Jenis-jenis warkat kliring:

- Warkat debet keluar adalah warkat bank lain yang disetorkan oleh nasabah untuk keuntungan rekeningnya.

- Warkat debet masuk adalah warkat yang diterima oleh suatu bank atas cek sendiri yang ditarik oleh nasabahnya.

- Warkat kredit keluar adalah warkat dari nasabah sendiri untuk disetorkan kepada nasabah lain pada bank lain.

- Warkat kredit masuk adalah warkat yang diterima oleh suatu bank untuk keuntungan rekening nasabah bank tersebut.





Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia
SKBNI adalah Sistem Kliring Bank Indonesia yang meliputi Kliring Debet dan Kliring Kredit yang penyelesaian akhirnya dilakukan secara nasional.

Manfaat
* Bagi Bank Indonesia
- Efisiensi waktu dan biaya
- Jangkauan transfer antar bank yang lebih luas
- Memenuhi prinsip-prinsip manajemen risiko dalam penyelenggaran kliring.
* Bagi Bank
- Efisiensi biaya operasional bank
- Semakin luasnya jangkauan layanan bank kepada nasabah.

Sistem Kliring
Berdasarkan sistem penyelenggaraannya, kliring dapat menggunakan:

1. Sistem semi otomasi
Sistem penyelenggaraan kliring lokal yang dalam pelaksanaan perhitungan dan
pembuatan bilyet saldo kliring dilakukan secara otomatis sedangkan pemilahan
warkat dilakukan secara manual oleh setiap peserta kliring.

2. Sistem otomasi
Sistem penyelenggaraan kliring lokal yang dalam pelaksanaan perhitungan,
pembuatan bilyet saldo kliring dan pemilahan warkat dilakukan oleh penyelenggara
secara otomatis.

3. Sistem Elektronik
Penyelenggaran kliring lokal yang dalam pelaksanaan perhitungan dan pembuatan
bilyet saldo kliring didasarkan pada data keuangan elektronik yang selanjutnya
disebut DKE disertai dengan penyampaian warkat peserta kepada penyelenggara untuk
diteruskan kepada peserta penerima.


Ilustrasi Kliring

Tuan A, nasabah giro Bank Omega Cabang Jakarta membeli barang dagangan dari Tuan B, nasabag giro bank ABC Cabang Jakarta seharga Rp 30.000.000. Tuan A membayar dengan menerbitkan cek Bank Omega.

Pembukuan Transaksi Kliring
Pembukuan Bank ABC Cabang Jakarta:

- Pada saat menerima warkat:
D : Bank Indonesia-Giro Rp 30.000.000
K : Warkat kliring Rp 30.000.000

- Pada saat hasil kliring diketahui
D : Warkat Kliring Rp 30.000.000
K : Giro Rek. Tuan B Rp 30.000.000

Pembukuan Bank Omega – Cabang Jakarta
D : Giro – Rekening Tuan A Rp 30.000.000
K : Bank Indonesia – Giro Rp 30.000.000


Sumber:
http://www.scribd.com/doc/18575618/Paper-Akun-Perbankan
http://thesuperkidz.blogspot.com
http://kartika.staff.gunadarma.ac.id

Kamis, 10 Februari 2011

Pengaruh Jejaring Sosial

Perkembangan Teknologi Informasi semakin terasa majunya sejalan dengan kemajuan teknologi internet yang semakin maju. Internet adalah jaringan komputer yang dapat menghubungkan suatu komputer ke jaringan banyak komputer dengan bantuan fasilitas server, sehingga dapat berkomunikasi atau berbagi data melalui sebuah blog, web tanpa melihat jenis komputer itu sendiri. Bukan hanya menggunakan media komputer, dengan menggunakan handphone pun sudah dapat menghubungkan jaringan ke seluruh dunia, salah satunya adalah yang banyak digunakan adalah jejaring sosial.

Perkembangan teknologi komunikasi melalui dunia maya atau internet yang berbentuk jejaring sosial, seperti "facebook", "twitter", dan "blog" secara tidak langsung ternyata mampu memengaruhi proses demokratisasi di Indonesia.

"Gerakan demokrasi rakyat yang riil justru banyak ditemui lewat jejaring sosial, seperti `facebook`, `twitter`, dan `blog`," kata pakar komunikasi Universitas Indonesia Prof M Alwi Dahlan usai menyampaikan kuliah umum di Universitas Diponegoro Semarang, Rabu.

Menurut dia, hal itu menunjukkan bahwa ada perkembangan yang lebih baik dari masyarakat untuk menyuarakan aspirasinya secara lebih luas, dibandingkan dengan dulu yang hanya mampu menyuarakannya lewat wakil rakyat di DPR.

"Di dunia, setiap orang dapat berkomentar atau menyuarakan aspirasi dan dukungannya terkait isu-isu dan persoalan negara, maupun persoalan sosial yang tengah terjadi," kata mantan Menteri Penerangan Kabinet Pembangunan VII tersebut.

Ia mencontohkan, kasus Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bibit-Chandra, perseteruan RS Omni International dengan Prita Mulyasari, Bank Century, dan sebagainya yang menunjukkan antusiasme masyarakat menanggapi lewat jejaring sosial.

"Hal ini merupakan dampak positif perkembangan proses demokratisasi di Indonesia, terutama perkembangan dalam proses komunikasi politik, meskipun tetap ada dampak negatif yang ditimbulkan oleh perkembangan teknologi itu," katanya.

Terlebih lagi, kata dia, saat ini banyak ditemui nama-nama pejabat, pengusaha, pendidik, kalangan ulama dan pesantren hingga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam jejaring sosial itu, selain tentunya kalangan anak-anak muda.

"Pengguna `facebook` di Indonesia pada tahun lalu melonjak 1.500 persen menjadi sekitar 14 juta orang yang berasal dari seluruh kalangan," kata penyandang gelar doktor bidang komunikasi pertama di Indonesia itu.

Berkaitan dengan dampak negatif dari perkembangan teknologi, terutama jejaring sosial itu, ia mengakuinya, seperti adanya penculikan orang atau penipuan yang berawal dari situs pertemanan tersebut.

Namun, kata dia, dampak positif terhadap perkembangan proses demokratisasi memang lebih besar, sehingga hal itu juga harus disadari para pembuat kebijakan atau perundang-undangan dalam menyikapi fenomena tersebut.

"Suara yang menentang kedatangan teknologi itu sampai saat ini masih terdengar, seperti adanya fatwa yang mengharamkan `facebook` dan protes terhadap internet yang dapat mengancam generasi muda," katanya.

Ia mengakui, perkembangan dan dinamika teknologi komunikasi dan informasi tersebut ternyata belum banyak disadari oleh seluruh pihak, termasuk mereka yang bergerak di bidang komunikasi dan informasi.

"Padahal, perubahan dan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi mendorong dinamika baru dalam segala segi kehidupan dan hubungan bermasyarakat, berbangsa, antar pribadi, perseorangan, atau institusi," kata Alwi.c

Dengan demikian, ada sisi positif dan negatif nya dari perkembangan teknologi tersebut khususnya yang berbentuk jejaring sosial. Akan tetapi, semua berawal dari user atau penggunanya tersebut apakah media teknologi ini akan dijadikan sebagai sebuah manfaat atau suatu hal yang tidak berguna.

Sumber: kutipan dari www.antaranews.com dengan perubahan.

Sabtu, 08 Januari 2011

Pembelian

Pengertian Pembelian

Pembelian dapat diartikan sebagai urutan kerja atau salah satu proses yang
berkaitan dengan pengadaan barang dagangan. Disini pembelian merupakan
kegiatan utama untuk menjamin kelancaran transaksi penjualan yang terjadi di
koperasi karyawan tersebut. Pembelian yang dilakukan oleh Koperasi Karyawan
R.S Telogorejo Semarang yaitu dengan pembelian secara kredit. Ada tiga cara
pembelian secara kredit di Koperasi Karyawan R.S Telogorejo yaitu Order toko,
Sales dan Konsinyasi .

Fungsi Pembelian .
Menurut Nugroho Widjajanto (2001:352) fungsi pembelian barang
sebenarnya berada di bawah atap fungsi logistik. Yang dimaksud dengan fungsi
logistik adalah fungsi perencanaan dan pengendalian aliran fisik barang yang
mengalir ke segenap bagian organisasi. Aliran fisik barang menyangkut barang
dagangan yang akan dijual kembali pada perusahaan dagang ataupun bahan baku
yang akan diolah menjadi barang jadi seperti pada perusahaan manufaktur.

Fungsi pembelian pada umumnya bertanggungjawab untuk :

a. Menentukan kuantitas barang yang akan dibeli secara tepat.

b. Menentukan waktu penerimaan barang yang tepat.

c. Menentukan rekanan pemasok barang yang tepat.

Kegiatan menentukan kuantitas dan saat penerimaan barang yang tepat
merupakan kegiatan manajemen pengendalian persediaan. Untuk menentukan
kuantitas pembelian dan titik pemesanan kembali yang dilakukan agar tercapai
keseimbangan yang optimal , memerlukan tiga faktor yaitu sebagai berikut:

a. Jumlah barang yang dipesan .

b. Biaya pengelolaan barang.

c. Resiko kelangkaan barang.

Tujuan Pembelian
Tujuan utama proses pembelian menurut Nugroho Widjajanto adalah
menyediakan sumber daya yang diperlukan organisasi perusahaan dengan cara
yang efisien dan efektif. Tujuan tersebut dapat dirinci lebih lanjut menjadi sebagai
berikut :

a) Melaksanakan pembelian dari rekanan yang handal.

b) Membeli barang dengan kualitas yang baik sesuai dengan yang diinginkan.

c) Memperoleh barang dengan harga yang pantas.

d) Hanya membeli barang yang disetujui (authorized) dan sesuai dengan tujuan
perusahaan.

e) Mengelola barang secara sehat sehingga selalu tersedia manakala dibutuhkan
perusahaan.

f) Hanya menerima barang yang sudah dipesan , dan harus menerima semua
barang yang dipesan.

g) Menerapkan pengendalian barang yang disimpan dan diterima secara sehat
untuk menghindari berbagai kemungkinan yang merugikan.

Pengertian Barang Dagangan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, barang dagangan adalah segala
sesuatu yang terwujud yang akan dijual. Dalam hal ini, barang yang dijual pada
Koperasi Karyawan R.S Telogorejo adalah berupa sembako, kebutuhan sehari-hari
para anggota koperasi, barang elektronik, pakaian, dan lain sebagainya. Selain
yang tersebut diatas, usaha yang dijalankan lainnya adalah venching machine yaitu
mesin foto copy.

Sistem Akuntansi Pembelian Barang Dagangan
Menurut Mulyadi, 2001 : 299 sistem akuntansi pembelian digunakan dalam
perusahaan untuk pengadaan barang yang diperlukan oleh perusahaan. Transaksi
pembelian dapat digolongkan menjadi dua yaitu pembelian lokal dan impor.
Pembelian lokal adalah pembelian dari pemasok dalam negeri, sedangkan
pembelian impor adalah pembelian dari permasok luar negeri. Dari uraian diatas
dapat disimpulkan bahwa sistem akuntansi pembelian barang dagangan adalah
suatu sistem akuntansi yang digunakan oleh perusahaan atau badan usaha lainnya
yaitu untuk pengadaan barang dagangan dan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan
konsumen.Adapun sistem akuntansi pembelian barang dagangan pada Koperasi
Karyawan R.S Telogorejo dilakukan dengan tiga cara yaitu order toko, sales dan
konsinyasi.


Unsur-Unsur Yang Berkaitan Dengan Sistem Akuntansi Pembelian Barang
Dagangan.

Fungsi Yang Terkait
1. Fungsi gudang
Dalam sistem akuntansi pembelian, fungsi gudang bertanggung jawab
untuk mengajukan permintaan pembelian sesuai dengan posisi
persediaan yang ada di gudang dan untuk menyimpan barang yang
telah diterima oleh fungsi penerimaan.
2. Fungsi pembelian
Fungsi pembelian bertanggung jawab untuk memperoleh informasi
mengenai harga barang, menentukan pemasok yang dipilih dalam
pengadaan barang, dan mengeluarkan order pembelian kepada
pemasok yang dipilih.
3. Fungsi penerimaan
Fungsi penerimaan bertanggung jawab untuk melakukan pemeriksaan
terhadap jenis, mutu dan kualitas barang yang diterima dari pemasok
guna menentukan dapat atau tidaknya barang tersebut diterima oleh
perusahaan.
4. Fungsi akuntansi
Fungsi akuntansi yang terkait dalam transaksi pembelian adalah fungsi
pencatat utang dan fungsi pencatat persediaan. Fungsi pencatat utang
bertanggung jawab untuk mencatat transaksi pembelian ke dalam
register bukti kas keluar dan untuk menyelenggarakan arsip dokumen
sumber (bukti kas keluar) yang berfungsi sebagai catatan utang atau
menyelenggarakan kartu utang sebagai buku pembantu utang.
Sedangkan fungsi pencatat persediaan bertanggung jawab untuk
mencatat harga pokok persediaan barang yang dibeli ke dalam kartu
persediaan.

Dokumen yang digunakan dalam sistem akuntansi pembelian barang
dagangan adalah :

1. Surat permintaan pembelian

Dokumen ini merupakan formulir yang diisi oleh fungsi gudang atau
fungsi pemakai barang untuk meminta fungsi pembelian barang
dengan jenis, jumlah dan mutu seperti yang tersebut dalam surat
tersebut.

2. Surat permintaan penawaran harga

Dokumen ini digunakan untuk meminta penawaran harga bagi barang
yang pengadaannya tidak bersifat berulang kali terjadi (tidak
repetitive) yang menyangkut jumlah rupiah pembelian yang besar.

3. Surat order pembelian

Dokumen ini digunakan untuk memesan barang kepada pemasok yang
telah dipilih.

4. Laporan penerimaan barang

Dokumen ini dibuat oleh fungsi penerimaan untuk menunjukkan
bahwa barang yang diterima dari pemasok telah memenuhi jenis, mutu
dan kuantitas seperti yang tercantum dalam surat order pembelian

5. Surat perubahan order pembelian.

Kadangkala diperlukan perubahan terhadap isi surat order pembelian
yang sebelumnya telah diterbitkan. Perubahan tersebut dapat berupa
perubahan kuantitas, jadwal penyerahan barang, spesifikasi,
penggantian (substitusi) atau hal lain yang bersangkutan dengan
perubahan desain atau bisnis.

6. Bukti kas keluar

Dokume ini dibuat oleh fungsi akuntansi untuk dasar pencatatan
transaksi pembelian. Dokumen ini juga berfungsi sebagai perintah
pengeluaran kas untuk pembayaran utang kepada pemasok dan yang
sekaligus berfungsi sebagai surat pemberitahuan kepada kreditur
mengenai maksud pembayaran (berfungsi sebagai remittance advice).


Menurut Mulyadi (2001:299-310) catatan akuntansi yang digunakan
dalam sistem akuntansi pembelian barang dagangan adalah :

1. Register bukti kas keluar (Voucher Register)
Jika dalam pencatatan utang, perusahaan menggunakan voucher
payable procedure, jurnal yang digunakan untuk mencatat transaksi
pembelian adalah register bukti kas keluar .

2. Jurnal pembelian
Jika dalam pencatatan utang, perusahaan menggunakan account
payable procedure, jurnal yang digunakan untuk mencatat transaksi
pembelian adalah jurnal pembelian .

3. Kartu utang
Jika dalam pencatatan utang, perusahaan menggunakan account
payable procedur, buku pembantu yang digunakan untuk mencatat
utang kepada pemasok adalah kartu utang.

4. Kartu persediaan
Dalam sistem akuntansi pembelian, kartu persediaan ini digunakan
untuk mencatat harga pokok persediaan yang dibeli .


Menurut Zaki Baridwan (1990 : 169), formulir yang digunakan dalam sistem
akuntansi pembelian barang dagangan sebagai berikut :

1 Permintaan Pembelian (Purchase Requisition)
Merupakan formulir yang ditulis oleh kepala bagian yang membutuhkan
barang atau gudang atau pembelian buku pembantu persediaan yang isinya
meminta kepada bagian pembelian untuk membeli barang atau jasa seperti
yang tercantum pada formulir tersebut.

2 Permintaan Penawaran Harga
Merupakan formulir yang dibuat oleh bagian pembelian untuk meminta harga
dari penjual

3 Order Pembelian
Yaitu surat pesanan pembelian, dibuat oleh bagian pembelian dan dikirimkan
kepada penjual barang atau jasa tertentu. Tembusan yang dibuat dari formulir
order pembelian barang ini adalah sebagai berikut :

a. Tembusan Pemberitahuan (Advice Copy)
Tembusan ini diberikan pada bagian yang meminta pembelian. Kadangkadang
penjual diberi 2 lembar order pembelian yang satu lembar akan
dikembalikan sebagai pemberitahuan pesanan diterima.

b. Tembusan Penerimaan (Receiving Copy)
Tembusan ini diberikan kepada bagian penerimaan. Dalam Blind
Receiving Procedure, tembusan ini dapat ditiadakan, atau kolom jumlah
pesanan ditutup dengan tinta hitam, dengan maksud agar bagian
penerimaan betul-betul menghitung barang yang diterima.

c. Tembusan Untuk Arsip
Tembusan ini bisa dibuat 2 lembar, yang satu lembar digunakan untuk
mengawasi pesanan yang belum diterima barangnya. Tembusan ini
disebut Unifilled Under Copy dan disimpan urut abjad nama penjual.
Lembar yang kedua diarsipkan urut nomor order pembelian dan
digunakan untuk mengawasi order-order yang dikeluarkan, disebut
Jurnal Register Copy.

d. Tembusan Posting atau Distribusi
Tembusan ini diserahkan pada pemegang buku pembantu yang akan
dicatat dalam kolom”dipesan” dalam kartu persediaan. Tembusan ini
dapat juga digunakan untuk membuat statistik order pembelian.


5. Laporan penerimaan barang (receiving report)
Merupakan formulir yang dibuat oleh bagian penerimaan untuk menunjukkan
barang yang diterima


6. Fomulir Persetujuan faktur.
Merupakan formulir yang diisi oleh bagian pembelian untuk menunjukkan
bahwa harga, perkalian dan penjumlahan dalam faktur sudah betul, dan
barang yang diterima sesuai dengan yang dipesan. Formulir ini dapat diganti
dengan cap (stempel) yang isinya sama dengan formulir. Cap (stempel) ini
dicapkan pada faktur yang sudah disetujui.


7. Memo Debit/Kredit
Memo debit digunakan oleh bagian pembelian untuk menunjukkan barangbarang
yang dikembalikan pada penjual. Sedangkan memo kredit digunakan
oleh bagian pembelian apabila barang yang dikirim melebihi jumlah pesanan
dan kelebihan itu belum diperhitungkan dalam faktur penjual.

Bagan Alir Dokumen (Document Flowchart) Sistem Akuntansi Pembelian.

Menurut Mulyadi (2001: 319) dalam sebuah organisasi, setiap transaksi
keuangan terjadi melalui sistem otorisasi tertentu. Tidak ada satupun transaksi
yang terjadi yang tidak diotorisasi oleh yang memiliki wewenang untuk itu.
Setiap transaksi yang terjadi dicatat dalam catatan akuntansi melalui prosedur
pencatatan tertentu. Dengan demikian karena setiap transaksi terjadi dengan
otorisasi dari yang berwenang dan dicatat melalui prosedur pencatatan tertentu,
maka kekayaan perusahaan akan terjamin keamanannya dan data akuntansi yang
dicatat terjamin ketelitian dan keandalannya.
Berikut ini bagan alir dokumen sistem pembelian kredit menurut Mulyadi
(2001: 319).


Cara Yang Digunakan Dalam Sistem Akuntansi Pembelian Barang
Dagangan Pada Koperasi Karyawan R.S Telogorejo Semarang
Dalam koperasi ini, pembelian barang dagangan dilakukan secara
kredit. Pembelian ini biasanya akan memperoleh syarat / termin pembayaran,
sehingga pemabayaran ini dilakukan setelah jatuh tempo. Dalam hal ini,
pemasok akan mengirim karyawannya untuk menagih dengan membawa
nota/faktur asli sebagi pendukung dalam pencarian uang di kasir.
Secara umum pembelian barang dagangan secara kredit dibagi
menjadi 3 (tiga) jenis yaitu :

1. Order Toko
Dalam hal ini, bagian pembelian menghubungi pemasok/ toko melalui
telepon untuk memesan barang dagangan yang dibutuhkan. Keuntungan
dari cara ini yaitu bagian pembelian tidak perlu untuk repot-repot dating
ke toko tersebut. Dalam hal ini biaya perjalanan ke toko dapat ditekan
sehemat mungkin. Sedangkan kelemahannya, bagian pembelian tidak
dapat memeriksa terlebih dahulu keadaan barang dagangan yang
dipesannya. Kemungkinan yang dapat terjadi yaitu kerusakan, kehilangan,
susut dan juga usangnya barang dagangan tersebut.

2. Sales
Dalam hal ini, sales toko datang sendiri ke koperasi dengan maksud untuk
menawarkan barang dagangannya kepada koperasi. Sales toko
menawarkan barang dagangannya dengan menampilkan brosur-brosur
atau surat penawaran produk yang berisi informasi mengenai harga, citra
dan kualitas barang.

3. Konsinyasi
Pembelian ini dilakukan dengan menerima barang dagangan yang
dititipkan oleh pemasok. Menurut Utoyo Widayat (1993: 66) konsinyasi
adalah pengiriman atau penitipan barang dari pemilik kepada pihak lain
yang bertindak sebagai agen penjualan. Hak milik daripada barang tetap
masih berada pada pemilik.

Senin, 01 November 2010

Olla Ramlan

Nama: Olla Ramlan
T.Tanggal lahir: Banjarmasin, 15 Februari 1980
Status: Single parent
Zodiak: Aquarius

Cantik, seksi, dan berkulit eksotis adalah citra yang melekat pada Olla Ramlan. Model yang satu ini sempat lama tidak muncul setelah menikah dan punya anak. Tetapi, ketika muncul kembali dalam dunia hiburan, namanya langsung melesat.
Cantik, seksi, dan berkulit eksotis adalah citra yang melekat pada Olla Ramlan. Model yang satu ini sempat lama tidak muncul setelah menikah dan punya anak. Tetapi, ketika muncul kembali dalam dunia hiburan, namanya langsung melesat. Ia membintangi komedi situasi di sebuah stasiun televisi swasta yang sempat memiliki rating tinggi. Olla juga terkenal sebagai pencinta mode dan saat ini selain sibuk sebagai model, ia mengembangkan bisnis fashion.

Olla memiliki nama lengkap Febiolla Ramlan. Ia lahir di Banjarmasin pada 15 Februari 1980 dari pasangan Haji Muhhamad Ramlan dan Hajjah Tis'ah Assarah. Olla tumbuh dalam keluarga yang sangat berada. Ia anak keenam dari sebelas bersaudara. Adik bungsu Olla, Cynthia juga berkarir dalam dunia hiburan sebagai pemain sinetron. Ayahnya adalah pengusaha batubara dan kayu terpandang di Banjarmasin yang juga pemilik stasiun televisi lokal "Duta TV".

Menjadi model dan artis sebenarnya bukan cita-cita Olla. Dulu ia ingin menjadi seorang yang bekerja dalam bidang hukum seperti pengacara atau notaris. Keinginan itu muncul karena dorongan sang ayah. Karena itulah, ia sempat berkuliah di Universitas Atmajaya Jakarta, Fakultas Hukum. Tetapi, kesibukannya di dunia hiburan membuat Olla berhenti kuliah pada semester keempat.

Awal mula Olla masuk dalam dunia hiburan adalah faktor ketidaksengajaan. Pada pertengahan 1990 saat ia berjalan-jalan di sebuah mal, seorang agensi menawarinya menjadi model di majalah 'Kawanku'. Hasil pemotretan yang cukup bagus membuatnya mendapatkan kembali tawaran untuk menjadi model di majalah yang sama.

Melihat bakat Olla, sang kakak Lolitha Ramlan, mendaftarkannya untuk ikut dalam pemilihan Cover Girl Majalah Mode pada 1997. Lolitha mengirimkan formulir pendaftaran tersebut tanpa memberitahu Olla. Bakat besar dan kecantikan wajahnya membuat Olla masuk sebagi finalis dan ia mendapatkan Juara Favorit.

Keberhasilan Olla, membuat tawaran untuk menjadi model dan bintang iklan semakin banyak. Wajahnya saat itu seringkali muncul di televisi sebagai bintang iklan seperti "Good Time Cookies" dan "Carefree". Namanya semakin melejit ketika Olla menjadi model iklan "Nescafe" versi "Pagi Donna". Iklan ini sangat unik dan menonjolkan kecantikan serta sisi sensualitas Olla . Iklan tersebut juga membuatnya sering disapa "Donna" oleh banyak orang.

Nama Olla kian melejit dan tawaran untuk bermain sinetron pun datang. Pihak dari Persari Film, menawari Olla untuk menjadi peran utama dalam sinetron "Shakila".

Tawaran tersebut tentu saja diterimanya. Ketika karirnya semakin menanjak dalam dunia hiburan, Olla membuat keputusan besar. Ia menerima lamaran kekasihnya, seorang model asal Belanda yang juga memiliki darah Spanyol dan China, Alex Tian. Mereka pun menikah pada 17 Mei 2003, saat usia Olla masih 23 tahun. Setelah menikah, karir Olla justru meredup. Ia sempat vakum selama lima tahun dan menikmati perannya sebagai istri dan ibu dari Sean Michael Alexander.

Olla pun kembali membangun karirnya dengan bermain sinetron. Ia membintangi sinetron "Perempuan" dan "Cinta Indah". Tetapi ternyata bukan sinteron yang mengangkat namanya kembali, melainkan program komedi situasi yang ditayang stasiun televisi Trans 7 berjudul "OKB". Dalam program komedi tersebut Olla berperan sebagai ibu gaul yang gila belanja. Ia beradu akting dengan beberapa pelawak terkenal seperti Jojon, Olga Syahputra, Parto "Patrio", Opie "Kumis" dan Akrie "Patrio". Citranya sebagai wanita feminim sedikit "terganggu" dalam program tersebut. Ia harus mengimbangi kegilaan pemain lainnya dan Olla membuktikan bahwa ia mampu beradaptasi.

Bisnis

Selain bermain dalam komedi situasi Olla juga masih menerima tawaran menjadi model. Ia juga salah satu sosialita yang selalu masuk dalam undangan acara fashion bergengsi di Jakarta. Kecintaannya pada dunia fashionlah yang membuatnya membuat bisnis butik. Bersama adik bungsunya, Cynthia, Olla membuat butik yang diberinama Clover di Jl. Kemang 1, nomor 12 A, Jakarta Selatan.

Selera fashion Olla memang sangat tinggi. Dalam hal memilih pakaian dan memadukan aksesori, ia banyak terinspirasi oleh selebritis terkenal seperti Victoria Beckham dan Lindsay Lohan. Dalam butik tersebut, Olla menjual busana rancangannya hasil kerjasama dengan sang adik.

Kejelian Olla dalam hal bisnis fashion cukup tinggi. Ia membuat parfum selebriti pertama di Indonesia. Bekerjasama dengan perusahaan parfum asal Prancis Olla meluncurkan parfum "The Woman" . Parfum tersebut memiliki kesan elegan yang merupakan perpaduan aroma lili dan mawar sutra. Aroma tersebut menurut Olla menggambarkan karakter wanita yang sempurna yaitu kuat dan cantik. Kemasan botol parfum yang berbentuk berlian itu juga dirancang sendiri oleh Olla.

Tato

Meskipun berpembawaan lembut dan sangat feminim, Olla ternyata memiliki banyak tato. Ia mulai membuat tato pada usia 17 tahun secara diam-diam karena takut dimarahi sang ayah. Tetapi lama-kelamaan ia terbuka dan mengaku pada ayahnya kalau memiliki tato. Sejak itu ia mulai ketagihan membuat tato mulai dari bagian punggung, kaki dan tangan. Tatonya sebagian besar merupakan nama orang terdekat Olla, seperti ayah, ibu, anak dan suami. Sampai saat ini Olla memiliki 11 tato yang menghiasi kulit mulusnya. Bukan tidak mungkin jumlah tato akan bertambah mengingat Olla suka sekali melukis tubuhnya.












My Wife

Nama : Amelia Permatasari

Ttl : 07 July 1991

Bio : Dia baik, cantik, lucu, gemesin, bawel, perhatian, ambekan,
apaadanya, pengertian, ngangenin, bikin nyaman.


Annivesary : 09 November 2009 until dead!amin


Foto sewaktu masih langsingnya :)








cantikkan ? hehe


Ini foto sekarang saat uda naik beratnya.hehe











Tetep cantikkan? hehe



Dan ini foto kita :)











Tanggal 09 November 2010 besok kita akan setahunan.hehe
Walaupun kita sering berantem tapi kita tetep pengen sampe married dan punya baby :)



Muhamad Ali Afrijal

dan

Amelia Permatasari

Tugas Metode Riset
“Contoh Kasus Riset Bisnis”

















Kelompok 7 :
Muhamaad Ali Afrijal (10208830)
Simon Yahya ( )
Septiawan ( )
Deyuan O.









Universitas Gunadarma
Fakultas Ekonomi Manajemen
2010
Pendahuluan



Topik yang ingin kita ambil adalah tentang riset bisnis terhadap Usaha Kecil Menengah (UKM). Di dalam bahasan ini kita akan membahas pengertian, tujuan, manfaat yang didapat dari Usaha Kecil Menengah (UKM), serta manfaat dari metode riset yang diterapkan dalam UKM tersebut sehingga tahu apa hubungan dari ilmu metode riset terhadap penerapannya di kehidupan sehari-hari.


Pembahasan

I. Pengertian Usaha Kecil Menengah (UKM)

Usaha Kecil dan Menengah disingkat UKM adalah sebuah istilah yang mengacu ke jenis usaha kecil yang memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 200.000.000 tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha. Dan usaha yang berdiri sendiri. Menurut Keputusan Presiden RI no. 99 tahun 1998 pengertian Usaha Kecil adalah: “Kegiatan ekonomi rakyat yang berskala kecil dengan bidang usaha yang secara mayoritas merupakan kegiatan usaha kecil dan perlu dilindungi untuk mencegah dari persaingan usaha yang tidak sehat.”






II. Tujuan dan Manfaat dari Usaha Kecil Menengah (UKM)
Usaha Kecil dan Menengah merupakan bagian integral dari dunia usaha nasional yang mempunyai kedudukan, potensi dan peranan yang sangat strategis dalam mewujudkan tujuan pembangunan nasional. Mengingat peranannya dalam pembangunan, usaha kecil menengah harus terus dikembangkan dengan semangat kekeluargaa, saling isi mengisi, saling memperkuat antara usaha yang kecil dan besar dalam rangka pemerataan serta mewujudkan kemakmuran yang sebesar-besarnya bagi seluruh rakyat.

III. Penerapan metode riset terhadap Usaha Kecil menengah
Penerapan metode riset terhadap Usaha Kecil menengah sangat dibutuhkan pasalnya, untuk melakukan suatu usaha dibutuhkan suatu riset untuk mengetahui pasar permintaan dan penawaran yang dibutuhkan. Jadi usaha dapat dilakukan secara terencana dan dapat berjalan dengan baik karena dengan adanya metode-metode riset yang dipelajari sebelum melakukan usaha.

IV. Contoh kasus riset tentang Usaha Kecil Menengah (UKM)
Studi Kasus Inovasi Collaborative di Perusahaan Kecil Kanada
Inovasi, penelitian dan pengembangan (R & D) dan komersialisasi di perusahaan-perusahaan kecil

Dalam ekonomi global yang terus berkembang, kegiatan inovasi telah menjadi semakin penting untuk bagaimana perusahaan mencapai keunggulan kompetitif dan, karenanya, keberhasilan jangka panjang dari perusahaan, tanpa ukuran kerja. Sebagai globalisasi telah menjadi lebih luas, inovasi telah menjadi bagian integral dari strategi untuk menjamin kelangsungan hidup perusahaan dan kesuksesan. penting ini menyajikan tantangan mendasar seperti bagaimana perusahaan mengatur kegiatan inovatif mereka. Inovasi adalah proses yang sulit untuk "memproduksi" dan lengkap berhasil. Pengeluaran R & D merupakan salah satu ukuran usaha inovatif, namun besar pengeluaran R & D tidak selalu menjamin sukses inovasi. Secara khusus, kemampuan untuk menerjemahkan ide-ide baru ke dalam aplikasi bisnis, yaitu, komersialisasi, merupakan unsur penting dalam proses. Pada tahapan yang berbeda, usaha kecil dan mediumsized (UKM) perlu terlibat dalam kolaborasi untuk akhirnya menjadi sukses.
Sifat dari R & D di UKM akan bervariasi menurut, usia, industri ukuran dan budaya bisnis perusahaan. Teknologi perusahaan yang didirikan berdasarkan terobosan teknologi yang menjanjikan ini jelas sangat terfokus pada mereka R & D; perusahaan lain cenderung melihat R & D lebih sebagai respon yang diperlukan untuk kebutuhan klien. Beberapa industri adalah R & D yang intensif (sebagai farmasi atau informasi teknologi tersebut (TI) perusahaan), sedangkan industri lain memiliki produk berkisar lebih dewasa dan, oleh karena itu, tarif yang lebih rendah inovasi, menuntut R & D belanja kurang (misalnya dan grosir perdagangan eceran). Dalam hal budaya bisnis, R & D di UKM dapat diatur atau serampangan - mungkin dilakukan oleh satu orang atau sekelompok orang, ini mungkin merupakan unit dalam perusahaan atau kemitraan dengan organisasi lain, termasuk pelanggan dan pemasok.
Fokus R & D mungkin evolusi yang ada keahlian praktek, dan teknologi, mungkin menjadi bagian dari implementasi strategi untuk ekspansi, dimana tujuan untuk perbaikan atau inovasi ditetapkan, atau mungkin menjadi budaya perusahaan di mana hal-hal baru yang selalu berusaha keluar dan orang-orang yang menunjukkan janji yang dipilih untuk pengembangan ("lumpur terhadap dinding" strategi).
Mengingat sumber daya terbatas UKM, mereka cenderung lebih berhasil jika mereka berkolaborasi dengan organisasi lain. Ini termasuk ide mencari dan keahlian tidak hanya dari sumber internal, tetapi juga dari keterkaitan dengan perusahaan lain - sering memperluas untuk lisensi kekayaan intelektual (IP) yang dimiliki oleh perusahaan lain. Penelitian menunjukkan, bagaimanapun, bahwa perusahaan-perusahaan kecil sering tidak bekerja sama karena mereka menghadapi hambatan yang signifikan untuk antar-perusahaan kerjasama. Mereka menderita dari ketidakmampuan untuk mengidentifikasi mitra yang cocok, untuk menempa perjanjian koperasi dan untuk memperoleh pengetahuan tacit.
Ini akan sangat membantu, karena itu, untuk melihat contoh perusahaan-perusahaan kecil yang telah efektif dalam melakukan R & D bekerjasama dengan organisasi lain. kerjasama tersebut juga dapat memperluas ke upaya komersialisasi juga. Laporan ini telah memilih empat UKM. Sebuah perusahaan kelima, yang kini sebuah perusahaan menengah, juga digunakan sebagai studi kasus karena telah terlibat dalam dan belajar dari berbagai kegiatan inovasi kolaboratif selama lebih dari 30 tahun. Tujuannya adalah untuk mengisolasi faktor utama yang berkontribusi terhadap strategi UKM sukses untuk inovasi kolaboratif.
Untuk membantu diskusi, laporan ini dimulai dengan mengelompokkan berbagai jenis kolaborasi. Dari empat UKM, satu adalah spin-off universitas yang telah melalui seluruh siklus kelahiran, pertumbuhan dan dijual ke sebuah perusahaan besar, satu adalah sebuah perusahaan rekayasa yang tidak keluar dari universitas namun telah memperoleh & R D komponen yang signifikan, dan dua lainnya relatif muda, spin-off teknologi tinggi.
The-perusahaan berukuran pertengahan, IPL Inc, adalah produsen plastik dengan penjualan tahunan sebesar $ 220 juta yang telah melakukan R & D aktif selama 30 dari 68 tahun keberadaannya. Ia berdiri sebagai patokan untuk empat UKM. IPL adalah contoh yang sangat baik dari sebuah perusahaan yang telah terlibat dalam kolaborasi kedua R & D dan kegiatan komersialisasi kolaboratif. Menanggapi kebutuhan klien dengan R inovatif & D, ini mengembangkan produk sendiri melalui kolaboratif dan in-house R & D, dan memiliki strategi untuk kontak sebagai kolaborator potensial sebanyak mungkin dalam upaya untuk bergabung dengan mereka dalam R kolaboratif & D.
Semua perusahaan telah bekerjasama dalam beberapa cara berbeda, berasal dari titik pandang yang berbeda (lihat Jenis kolaborasi ). Mereka semuanya telah berhasil atau lebih rendah derajat yang lebih besar dan mereka masing-masing menawarkan beberapa wawasan ke dalam apa yang berhasil dan apa yang tidak bekerja ketika usaha kecil berinteraksi dengan inkubator bisnis, fasilitas pemerintah dan pihak ketiga lainnya R & D mitra.


Studi ini meneliti inovasi kolaboratif untuk mengidentifikasi kondisi yang diperlukan untuk kolaborasi sukses oleh UKM.
Tujuan ini dapat dipecah menjadi faktor mengidentifikasi bahwa (a) memfasilitasi kolaborasi, (b) menciptakan hambatan bagi kerjasama dan (c) menyebabkan kolaborasi untuk berhasil atau gagal.
Faktor-faktor ini diambil dari keadaan tertentu dari empat UKM diperiksa. Walaupun keadaan ini tidak dapat diambil sebagai wakil dari semua perusahaan melakukan kolaborasi R & D, mereka berlaku untuk sebagian besar perusahaan dan menawarkan wawasan ke dalam kolaborasi cara bekerja atau tidak bekerja.
Sebagai bagian dari tujuan ini, sejumlah isu muncul menunjukkan beberapa perubahan yang akan membantu UKM dalam proses identifikasi dan menerapkan potensi kolaborasi dalam R & D.
Tujuan kedua dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi implikasi kebijakan bagi pemerintah untuk meningkatkan inovasi dan komersialisasi R & D di UKM.


Kesimpulan
Jadi dengan adanya metode riset ini dapat mengidentifikasi atau meneliti tentang keadaan atau kondisi internal atau eksternal pasar sehingga dapat mengetahui implikasi-implikasi dan dapat meningkatkan inovasi dan komesialisasi di Usaha Kecil Menengah.
Sumber : www.google.com

Jumat, 22 Oktober 2010

Pengaruh kebudayaan terhadap perilaku konsumen

Penelitian mengenai budaya menjadi sangat penting karena budaya mempengaruhi keseluruhan masyarakat itu sendiri. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai konsep dasar dari budaya dengan beberapa penerapan budaya serta pengaruhnya terhadap perilaku konsumen.

Apakah Budaya itu?

Dalam kaitannya dengan perilaku konsumen, budaya dapat didefinisikan sebagai sejumlah total dari beliefs, values, dan customs yang dipelajari yang ditujukan pada perilaku konsumen dari anggota masyarakat tertentu.

Labih luas lagi, baik values maupun beliefs merupakan konstruk mental yang mempengaruhi sikap yang kemudian berpengaruh terhadap kecenderungan seseorang untuk bertindak terhadap perilaku tertentu.

Misalnya: seorang konsumen memilih antara mobil Volvo dan Jaguar. Ketika memilih, dia akan menggunakan values dan beliefs yang berupa persepsi terhadap kualitas yang akan didapat dan persepsi mengenai negara penghasil mobil itu sendiri.

Berbeda dengan values dan beliefs yang menjadi pedoman berperilaku, customs atau kebiasaan terdiri dari perilaku rutin sehari-hari yang merupakan cara berilaku yang dapat diterima. Contoh dari customs adalah memberikan gula pada minuman.

Dengan memahami beberapa bentuk budaya dari masyarakat, dapat membantu marketer dalam memprediksi penerimaan konsumen terhadap produk mereka.

Pengaruh Budaya yang Tidak Disadari

Pengaruh budaya sangat alami dan otomatis sehingga pengaruhnya terhadap perilaku sering diterima begitu saja. Ketika kita ditanya kenapa kita melakukan sesuatu, kita akan otomatis menjawab, “ya karena memang sudah seharusnya seperti itu.”. Jawaban itu sudah berupa jawaban otomatis yang memperlihatkan pengaruh budaya dalam perilaku kita. Barulah ketika kita berhadapan dengan masyarakat yang memiliki budaya, nilai dan kepercayaan yang berbeda dengan kita, kita baru menyadari bagaimana budaya telah membentuk perilaku kita. Kemudian akan muncul apresiasi terhadap budaya kita sendiri bila kita berhadapan dengan budaya yang berbeda. Misalnya, di budaya yang membiasakan menggosok gigi dua kali sehari dengan pasta gigi akan merasa bahwa itu kebiasaan yang baik bila dibandingkan dengan budaya yang tidak mengajarkan menggosok gigi dua kali sehari.

Mungkin kalimat dibawah ini akan membantu untuk memahami ilustrasi di atas:

Konsumen melihat diri mereka sendiri dan bereaksi terhadap lingkungan mereka berdasarkan cultural framework yang mereka miliki. Setiap individu mempersepsi dunia dengan kacamata budaya mereka sendiri.

Budaya dapat Memuaskan Kebutuhan

Budaya ada untuk memuaskan kebutuhan masyarakat. Budaya memberikan petunjuk, dan pedoman dalam menyelesaikan masalah dengan menyediakan metode “tried-and-true” dalam memuaskan kebutuhan fisiologis, personal dan sosial.

Misalnya: Budaya memberikan peraturan dan standar mengenai kapan. Kapan waktu kita makan, dan apa yang harus dimakan tiap jam-jam makan.

Values, beliefs dan customs terus yang dapat memuaskan kebutuhan akan terus diikuti. Dan yang tidak memberikan kepuasan akan digantikan atau dimodifikasi.

Budaya dapat Dipelajari

Tidak seperti karakteristik biologis, budaya dapat dipelajari. Sejak kita masih kecil, kita mulai mendapat beliefs, values dan customs, dari lingkungan yang kemudian membentuk budaya kita.

Bagaimana Budaya Dipelajari?

Para ahli antropologi telah menemukan 3 cara yang berbeda dari cultural learning:

Formal Learning: orang dewasa dan teman bermain yang lebih tua mengajari enggota keluarga yang lebih muda tentang bagaimana cara berperilaku.

Informal Learning: Anak belajar dengan meniru perilaku keluarga, teman atau pahlawan TV

Technical Learning: Sekolah yang mengajarkan apa yang harus dilakukan, kenapa hal itu dilakukan dan bagaimana cara melakukannya.

Dalam dunia industri, perusahaan periklanan cenderung memilih cara informal learning dengan memberikan model untuk ditiru masyarakat. Pengulangan iklan akan membuat values dan beliefs dalam masyarakat. Biasanya iklan sebuah produk akan mengulang-ulang kembali apa yang menjadi keuntungan dan kelebihan dari produk itu sendiri. Iklan tidak hanya mampu mempengaruhi persepsi sesaat konsumen mengenai keuntungan dari suatu produk, namun dapat juga memepengaruhi persepsi generasi mendatang mengenai ekspektansi tentang keuntungan yang akan didapat dari suatu kategori produk tertentu.

Enkulturasi dan Akulturasi

Ketika membahas sifat akuisisi dari budaya, para ahli antropologi memaparkan adanya enkulturasi dan akulturasi. Enkulturasi adalah pembelajaran dari budaya asalnya. Pembelajaran budaya yang baru dinamakan akulturasi.

Bahasa dan Simbol

Untuk memahami budaya setempat, masyarakat harus dapat berkomunikasi satu dengan yang lain melalui bahasa. Tanpa bahasa, shared meaning tidak akan ada, dan komunikasi yang sebenarnya juga tidak akan ada.

Untuk dapat berkomunikasi secara efektif dengan konsumen, marketer sebaiknya menggunakan simbol untuk menyampaikan imej dari produk. Simbol ini bisa berarti verbal maupun nonverbal. Simbol yang verbal biasanya menggunakan televisi, pengumuman atau iklan di majalah. Simbol nonverbal biasanya menggunakan warna, bentuk,dll. Namun simol memiliki beberapa arti sehinggan kita harus benar-benar meyakinkan bahwa simbol itu dapat mewakili imej produk.

Ritual

Ritual adalah aktivitas yang bersifat simbolis yang merupakan serangkaian langkah-langkah (berbagai perilaku) yang muncul dalam rangkaian yang pasti dan terjadi berulang-ulang.

Ritual disampaikan selama kehidupan manusia, dari lahir hingga mati. Ritual ini bisa jadi sangat publik atau bahkan sangat domestik. Hal yang penting dari ritual ini untuk parra marketer adalah fakta bahwa ritual cenderung penuh dengan produk yang berasosiasi dengan ritual itu sendiri. Misalnya: natal, berasosiasi dengan ohon cemara. Dan untuk ritual-ritual misalnya pernikahan, akan membutuhkan perhiasan sebagai perlengkapan.

Culture Is Shared

Untuk dipertimbangkan oleh masyarakat sebagai karakteristik cultural maka, belief dan value harus disebarkan kepada masyarakat sehingga kultur secara perlahan dianggap sebagai kebiasaan suatu kelompok yang berhubungan dengan anggota masyarakat. Dan tentu saja bahasa adalah komponen yang dapat digunakan untuk menyebarkan value, pengalaman, dan kebiasaan. Beberapa institusi sosial dalam masyarakat mengirimkan beberapa elemen dari kultur dan menyebarkan realitas budaya. Dan pemimpin dari berbagai institusi tersebut adalah keluarga yang berperan sebagai agen primer dari enculturation yang memberikan basic cultural belief, value, dan kebiasaan kepada anggota sosial baru. Yang termasuk di dalamnya adalah arti uang, hubungan antara uang denagn kualitas barang, product taste, pilihan atas sesuatu, dan habit.

Selain kelaurga, institusi lainya yang secara tradisional juga menyebarkan aspek-aspek khusus dari budaya, yaitu institusi pendidikan dan agama. Pendidikan memberikan siswanya kemampuan dasar, sejarah, patriotisme, kewarganegaraan, dan technical training yang dibutuhkan untuk mempersiapkan peran siswa dalam masyarakat. Sedangkan agama memberikan kesadaran akan beragama, petunjuk spiritual, dan moral training. Walaupun anak-anak lebih banyak mendapatkan consumer training dari keluarga namun tetap saja sistem pendidikan dan keagamaan juga berperan dalam memperkuat training ini dengan memberikan pelajaran ekonomi dan konsep-konsep etika.

Institusi sosial yang berperan besar dalam transfer kultur dalam masyarakat tidak lepas dari peran mass media baik itu mass media cetak maupun elektronik yang memang menyebarkan informasi dalam format yang menarik sehingga tidak mengherankan mass media adalah alat yang tepat dalam memperluas nilai-nilai budaya. Dapat kita lihat dalam berbagai mass media baik cetak maupun elektronik terdapat berbagai macam ikalan yang menawarkan sesuatu. Semakin banyaknya iklan ini karena banyaknya jumlah orang yang melihat dan membaca mass media, yang memudahkan marketer untuk menyebarkan nilai-nilai budaya secara lebih efektif. Vanity Fair, Wine Spectator, dan Martha Steward Living adalah contoh perusahaan yang menyebarkan nilainya lewat majalah. Mereka memberikan informasi kepada pelanggan tentang bagaimana berpakaian, mendekorasi rumah, dan berbagai tips lainnya.

Culture Is Dynamic

Karena masyarakat berkembang dan ilmu pengetahuan berkembang dengan sangat cepat maka kemungkinan keadaan masyarakat pun berubah. Oleh karena itulah marketer harus memonitor masyarakat secara lebih seksama dalam usaha untuk menjual produk yang ada lebih efektif atau mengembangkan dan memproduksi produk baru. Tentu saja ini bukanlah tugas yang mudah karena ada berbagai faktor yang mempengaruhi perkembangan masyarakat. Misalnya, banyak wanita Amerika yang meninggalkan peran kewanitaanya karena merasa anak adalah beban baginya, bentuk tubuhnya pun menjadi jelek, selain itu dengan bekerja ia tidak harus menunggu suaminya untuk dapat membeli barang-barnag mahal yang diingininya.

Perubahan dalam masyarakat ini berarti marketer harus mempertimbangkan kembali mengapa konsumen sekarang melakukan hal yang dilakukannya, siapakah yang menggunakan produknya, kapan mereka berbelanja, bagaimana dan dimana mereka dapat tersenth oleh media, dll. Marketer yang memonitor cultural changes juga biasanya mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan keuntungan perusahannya.

The Meeasurement of Culture

Content Analysis

Sebagaimana namanya, fokus dari content analysis ini adalah kandungan pesan dalam komunikasi verbal, tertulis, dan majalah bergambar. Content analysis dapat digunakan sebagai alat yang relatif objektif dalam menentukan perubahan sosial dan kultural yang telah terjadi dalam masyarakat tertentu atau sebagai alat untuk membandingkan aspek-aspek dari dua masyarakat yang berbeda. Content analysis dilakukan pada 263 iklan yang menunjukkan 8 issue dari majalah Seventeen, 4 issue tentang remaja Jepang dan 4 lagi tentang remaja Amerika. Dan didapatkan bahwa ada perbedaan antara remaja Jepang denagn remaja Amerika, remaja Amerika cenderung mandiri dan berketetapan hati sedangkan remaja Jepang lebih ceria, senang bermain, imagenya seperti childlike girlish.

Consumer Fieldwork

Ketika mempelajari suatu masyarakat, antropolog biasanya masuk dalam lingkungan tersebut dan hal yang sama dapat dilakukan ketika researcher ingin mempelajari perilaku masyarakat dengan berinteraksi langsung dengan konsumen atau masuk dalam dunia konsumen yang biasa disebut dengan consumer fieldwork. Berdasarkan pengamatannya, peneliti dapat mengambil kesimpulan tentang value, belief, dan kebiasaan yang ada dalam masyarakat yang ditelitinya. Karakteristik dari field observation adalah mengambil tempat di setting natural, statusnya tidak disadari oleh subjek penelititan, dan fokusnya adalah pada perilaku konsumen.

Dalam keadaan tertentu, penelti apat menjadi participant observer yaitu mereka menjadi anggota aktif dari lingkungan yang dipelajarinya. Misalnya untuk mempelajari cara konsumen memilih computer software maka peneliti berperan menjadi sales di toko komputer.Teknik lain yang biasa dipilih adalah depth interview dan focus group discussion yang biasanya digunakan untuk mendapatkan kesan pertama dari perubahan sosial dan cultural.

Value Measurement Survey Instrument

Peneliti biasanya menggunakan value instrument untuk menanyakan kepada orang tentang perasaannya tentang basic personal dan konsep-konsep sosial seperti kebebasan, kenyamanan, keamanan nasional dan perdamaian. Berbagai value instrument yang terkenal adalah Rokeach Value Survey, the List of Values (LOV), dan the Values and Lifestyles (VALS).

Rokeach Value Survey adalah sebuah instrument yang dibagi menjadi dua bagian, bagian yang pertama terdiri dari 18 item-item terminal value yang didesain untuk mengukur pentingnya personal goal, sedangkan bagian kedua terdiri dari 18 item instrumental value yang mengukur cara yagn diraih individu untuk mencapai tujuan akhirnya itu. Bagian pertama berhubungan denagn tujuan akhir sedangkan bagian kedua berhubnbungan denagn alat untuk mencapai tujuannya itu.

LOV adalah sebuah alat yang juga didesain untuk meneliti personal value dari konsumen. Skala LOV meminta konsumen untuk mengidentifikasi dua value yang dirasa paling penting dari 9 value yang disediakan yang berdasar pada terminal value dari Rokeach Value Survey.

Nilai-nilai Inti Budaya Amerika

Mengetahui budaya Amerika merupakan pekerjaan yang sulit karena Pertama, Amerika merupakan Negara dengan banyak perbedaan, terdiri dari bermacam-macam subkultur baik agama, suku, daerah, ras dan kelompok ekonomi yang masing-masing memiliki interpretasi dan respon tersendiri terhadap kepercayaan dan nilai-nilai sosial. Kedua, Amerika merupakan Negara dengan kehidupan social yang dinamis. Perubahan sosial ini disebabkan oleh perkembangan teknologi baru.

Untuk mengetahui Nilai-nilai Inti budaya Amerika , ada beberapa petunjuk yang digunakan, yaitu :

Nilai tersebut harus diresapi sebagai petunjuk bagi sikap.

Harus abadi. (tidak terbatas pada waktu).

Harus berhubungan dengan konsumen, sehingga membantu untuk memahami perilaku konsumsi penduduk Amerika.

Dari ketiga kriteria tersebut diatas akan diperoleh ”Karakter Amerika” sebagai berikut :

Prestasi dan Kesuksesan

Prestasi merupakan nilai utama bagi Amerika, dengan sejarah yang bisa dilacak dan kepercayaan agama yang masih tradisional pada kerja-kerja etnis protestan, yang bergantung pada kerja keras untuk menjadi seseorang yang bermanfaat, dan memperoleh rewars spiritual. Penelitian menunjukkan bahwa orientasi berprestasi diasosiasikan dengan adanya perkembangan teknik dan ekonomi di Amerika.

Individu yang memiliki ”rasa untuk berprestasi” sebagai nilai penting untuk didapatkan maka dia akan berusaha keras untuk menjadi sukses. Pada masa sekarang menjadi berprestasi adalah sangat penting baik bagi wanita maupun pria yang mencari karir bisnis paling puncak.

Pada dasarnya kesuksesan dan prestasi tidak begitu berbeda. Perbedaan mendasarnya pada asal penghargaan itu muncul. Dengan berprestasi individu akan memperoleh reward dari diri sendiri, misalnya dia merasa puas, dsb. Sedangkan kesuksesan reward yang diperoleh berasal dari luar individu tersebut. Seperti kompensasi finansial, dan status yang meningkat.

Kesuksesan dan Prestasi mempengaruhi perilaku konsumen. Produsen sering menawarkan produknya sebagai penghargaan sosial dan moral untuk memperoleh barang dan jasa. Contohnya : Kamu bekerja untuk itu, kamu pantas menerimanya. Orang yang berorientasi prestasi sering menikmati konsumsi yang menyolok karena itu merupakan simbol dari prestasinya.

Aktivitas

Menjadi sibuk merupakan bagian dari gaya hidup orang-orang Amerika. Gaya hidup ini seringkali dikomentari oleh pendatang dari luar negri, kenapa orang-orang Amerika selalu ’berlari” dan sepertinya tidak pernah menjadi relax. Aktivitas ini memiliki dampak pada konsumsi barang. Contohnya McDonald’s dan KFC, banyak orang yang menginginkan untuk dilayani dengan cepat, mempersiapkan makanan ketika mereka sedang dalam perjalanan dari rumah. Orang-orang Amerika jarang sarapan pagi karena biasanya mereka terlalu sibuk dipagi hari hanya untuk membuat dan makan sarapan yang lengkap.

Menurut penelitian ”menjadi sibuk” sangat tidak sehat, sangat penting untuk menjadi relax dan santai.

Efisien dan Praktis

Efisien merupakan sesuatu yang hemat waktu dan usaha. Sedangkan praktis berhubungan dengan produk baru yang membuat pekerjaan dapat dilakukan dengan lebih mudah dan memecahkan masalah.

Ilustrasi dari pentingnya praktis dan efisien adalah prinsip orang Amerika bahwa ’waktu adalah suply yang sedikit’, ’waktu adalah uang’, dll. Keinginan untuk memperoleh lebih dan lebih setiap hari seperti membuat diri terpenjara dengan perasaan bahwa kita memperoleh sedikit dan semakin sedikit setiap harinya. Frekuensi orang Amerika melihat jam tangan merupakan salah satu bentuk implementasi dari efisiennya dan praktisnya orang Amerika. Contohnya, seorang produsen akan mengiklankan produknya dengan kalimat ”Hertz saves me time and money, thats big”

Progress

Orang-orang Amerika cenderung merespon sesuatu yang menjanjikan adanya peningkatan/progresivitas. Hal ini juga berhubungan dengan aspek-aspek yang telah dijelaskan diatas dan pada kepercayaan utama orang Amerika bahwa hari esok harus lebih baik dari hari ini. Dalam perilaku konsumen ”progres’ diidentikkan dengan produk baru dan jasa yang melengkapi kebutuhan yang belum terpuaskan. Mereka mencari pemenuhan dan keseimbangan dalam karir, keluarga, kesehatan dan hobi. Orang-orang Amerika menerima produk yang mengklaim dirinya ’baru’, ’lebih cepat’, ”lebih halus dan dekat’, ’menambah kekuatan’. Contohnya adalah produk jam tangan citizen yang tidak memerlukan baterai.

Kenyamanan dalam Materi

Kenyamanan dalam materi merupakan faktor penting untuk memperoleh kehidupan yang baik. Kehidupan yang mungkin termasuk didalamnya adalah mobil baru, dll. Kenyaman materi merupakan hal yang relatif, konsumen cenderung mengidentifikasi kenyamanannya sendiri yang beruhubungan dengan materi dan biasanya mereka bandingkan dengan apa yang mereka miliki dengan apa yang orang lain miliki. Bila mereka berpikir mereka punya lebih dari pada orang lain maka mereka akan cenderung merasa puas. Tapi ada beberapa orang yang merasa puas bila ia dapat menghabiskan waktu lebih lama bersama keluarganya.

Individual

Nilai yang sangat kuat tertanam dalam diri orang-orang Amerika adalah ’menjadi diri sendiri’ baik itu seperti self interest, self confidence, self esteem, dan self fulfillment merupakan ekspresi dari individulisme orang-orang Amerika. Pengertian ini merupakan penolakan atas adanya ketergantungan kepada orang lain.

Hubungannya dengan perilaku konsumen , individualisme akan meningkatkan ’rasa’ konsumen terhadap identitas produk atau servis yang keduanya merefleksikan identitasnya. Contohnya iklan baju dan kosmetik untuk High style. Produsen menjanjikan bahwa produknya tersebut akan menambah eksklusifitas konsumen dan karakter konsumen yang berbeda dari yang lain.

Kebebasan

Dalam sejarah seperti kita ketahui Amerika selalu berpendapat bahwa kebebasan berbicara, kebebasan pers, sebagai nilai utama. Perkembangan dari kepercayaan akan kebebasan ini, Amerika percaya bahwa mereka punya kebebasan untuk memilih. Pilihan ini direfleksikan dengan kompetisi dari merk dan variasi produk. Pada banyak pilihan produk baik ukuran, warna, gaya, dan bahkan isi (misalnya isi dari bahan-bahan alami), konsumen dapat memilih yang sesuai dengan kehendaknya. Ini juga menjelaskan kenapa banyak perusahaan menawarkan konsumen banyak pilihan.

Dalam situasi tertentu konsumen menjadi stress ketika dihadapkan pada banyak pilihan dan memilih untuk lari dari situasi yang membuat stress tersebut.

External Conformity

Meskipun orang-orang Amerika Serikat sangat mengagungkan kemerdekaan untuk menentukan pilihan dan individualisme, namun dalam kenyataannya mereka dapat menerima konformitas. Konformitas eksternal merupakan proses penting dalam adaptasi individu di masyarakat Amerika.

Pada perilaku konsumen, konformitas (atau non-konformitas) memancing produsen untuk menghasilkan produk-produk dan pelayanan yang terstandardisasikan. Produk-produk standar itu memungkinkan terjadinya produksi secara masal. Adanya produk-produk yang standar telah menempatkan konsumen pada dua posisi yang unik yaitu: (1) tipe individualistis, yaitu konsumen yang memilih produk-produk khusus yang tidak dimiliki oleh teman dekat atau orang-orang di sekitarnya, dan (2) tipe konformis yaitu konsumen yang membeli barang yang serupa atau identik dengan yang dimiliki oleh teman-temannya.

Ada sebuah istilah yaitu hubungan “ping-pong” dimana individualitas seseorang berkolaborasi dengan penerimaan terhadap konformitas secara bersamaan. Salah satu contoh yang menarik adalah penggunaan pakaian yang lebih santai/kasual di tempat kerja. Percaya diri yang lebih meningkat dan penekanan pada perasaan nyaman adalah alasan mengapa para eksekutif tidak menggunakan pakaian formal saat bekerja. Adanya busana kerja adalah salah satu bentuk konformitas. Penelitian mengenai konsumen menunjukkan bahwa jenis pakaian yang dipakai oleh sebagian besar pekerja di Amerika adalah tipe pakaian yang kasual. Untuk laki-laki, biasanya berupa celana jins dan t-shirt sedangkan untuk perempuan biasanya berupa celana panjang yang kasual dan dipasangkan dengan sweater. Lebih dari 50 persen pekerja yang diteliti beranggapan bahwa penggunaan pakaian yang kasual saat bekerja akan meningkatkan produktivitas mereka.

Humanitarism

Orang-orang Amerika terkenal dermawan dalam membantu orang lain yang membutuhkan sesuatu. Mereka sangat memperhatikan orang lain terutama kaum tertindas yang harus menghadapi hambatan untuk kemajuan dirinya. Mereka juga cenderung murah hati dan mau membantu orang-orang yang kurang beruntung dibandingkan mereka. Agar penelitian mengenai kemurah-hatian bangsa Amerika mencapai hasil yang baik, peneliti dalam bidang konsumen telah memvalidasikan dua skala pengukuran yaitu attitudes toward helping others (AHO) dan attitudes toward charitable organizations (ACO), ada sembilan item skala yang digunakan untuk mengukur AHO dan ACO.

Dalam konteks pembuatan keputusan untuk beramal, Web site Planned Giving Design Center (www.pgdc.net) berusaha mendirikan dan membangun hubungan baik dengan para profesional (pengacara, perencana keuangan) untuk memberikan saran pada klien untuk membuat kontribusi amal. Web site lain juga didesain untuk mengumpulkan dana-dana amal yang berasal dari perseorangan untuk suatu tujuan khusus (misalnya, www.charityguide.org, www.guidestar.org, dan www.charitynavigator.org)

Selain pemberian amal, permasalahan sosial lain juga mempunyai dampak pada perilaku konsumen baik dalam apa yang mereka beli maupun dimana mereka berinvestasi. Beberapa investor lebih memilih berinvestasi pada perusahaan yang memberikan perhatian pada bidang sosial misalnya perusahaan yang memperhatikan masalah polusi. Banyak perusahaan mencoba untuk menarik konsumen dengan menekankan perhatian mereka pada lingkungan atau isu-isu sosial.

Youthfulness

Orang-orang Amerika cenderung memberikan nilai yang sakral pada keawetmudaan. Penekanan pada hal ini merupakan refleksi dari perkembangan teknologi yang sangat cepat di Amerika. Pada masa sekarang ini sesuatu yang baru (new) sangat ditekankan, sedangkan sesuatu yang tua (old) dianggap sebagai ketinggalan zaman. Hal ini sangat kontras dengan Negara-negara di Eropa, Afrika, dan Asia yang memberikan penghormatan pada orang-orang yang lebih tua karena mereka dianggap bijaksana dan lebih berpengalaman.

Keawetmudaan (youthfulness) sangat berbeda dengan pemuda (youth) yang merupakan suatu tingkatan umur. Orang Amerika sangat terobsesi untuk terlihat muda dan berperilaku seperti orang yang muda, meskipun berlawanan dengan usia mereka sebenarnya. Bagi orang-orang Amerika, selain melalui pikiran-pikiran keawetmudaaan juga terpancarkan dari perilaku mereka., yang kadang-kadang diekspresikan melalui kata-kata seperti “berjiwa muda”, “bersemangat muda”, dan “berpenampilan muda” sehingga produsen kosmetik menciptakan produk yang menggambarkan wanita yang berperang melawan penuaan dini sebagai contoh adalah produk Olay® Total Effect.

Perusahaan-perusahaan periklanan diarahkan untuk menciptakan suatu trend di masyarakat mengenai pentingnya menjaga kemudaan dan menanamkan rasa takut akan penuaan. Tema-tema iklan dibuat dengan mengumbar janji bahwa konsumen akan memperoleh keuntungan bila terlihat awet muda. Contoh: iklan parfum dan make-up menekankan pada “seksi dan muda” atau “lawanlah umur anda”.

Fitness and Health

Orang-orang Amerika sangat memperhatikan kesehatan dan kebugaran tubuhnya dan ini telah dianggap sebagai suatu nilai inti. Nilai inti pada masyarakat Amerika ini tergambarkan melalui berbagai cara misalnya saja olahraga seperti tennis, jogging, dan adanya peningkatan dalam penjualan vitamin. Berdasarkan trend ini, berkembang suatu pendapat di Amerika yang berbunyi “you are what you eat”.

Kesehatan dan kebugaran tubuh telah menjadi suatu pilihan gaya hidup bagi banyak konsumen. Trend ini telah mendorong pengusaha makanan tradisional untuk memodifikasi bahan-bahan yang mereka gunakan agar aman bagi kesehatan konsumen. Makanan yang diawetkan menjadi lebih bergizi, dan pembuat makanan sampah (junk food) mencoba menbuatnya lebih sehat. Pengusaha makanan-makanan tersebut biasanya mencantumkan “fat-free”, “no-cholesterol”, atau ”no-preservative” pada produk makanan yang mereka hasilkan agar konsumen memilih makanan yang lezat namun tetap sehat. Bahkan, ada sebuah Web site yang khusus memberikan informasi bagi orang-orang yang sangat memperhatikan kesehatannya (www.fitnessonline.com) yang berisi berbagai tips kesehatan, informasi nutrisi, serta produk dan pelayanan yang berkaitan dengan kesehatan dan kebugaran tubuh.

Meskipun tidak ada yang menyangkal bahwa kebugaran tubuh dan hidup yang sehat telah menjadi suatu trend di Amerika, namun banyak kejadian nyata menunjukkan bahwa konsumen sulit menjaga kesehatan pribadi mereka.. Hal ini menunjukkan bahwa makanan rendah lemak dan rendah kolesterol yang diproduksi tidak untuk semua orang dan ada sebuah segmen pasar khusus untuk orang-orang yang sangat memperhatikan bentuk tubuhnya. Data dari AC Nielsen menunjukkan bahwa saat ini penjualan keripik kentang bebas lemak turun sebanyak 33 persen, kue dan margarin bebas lemak turun 12 persen, dan es krim bebas lemak turun sebanyak 22 persen. Badan kesehatan dunia (WHO) telah mengeluarkan laporan yang menyatakan bahwa obesitas adalah sebuah masalah mengenai kesehatan yang berkembang baik di Negara maju maupun di Negara dunia ketiga.
sumber :
http://wangmuba.com/2009/04/22/pengaruh-budaya-terhadap-perilaku-konsumen/